sumber : Abd. Hamid Serang
Editor : Mustafa KamalCELEBES MAGAZINE.COM, Mungkin kita tidak pernah menyangka permainan politik Jokowi. Dia telah mengukir sebuah sejarah baru di negeri ini. Ia menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas segala-galanya.
Baginya, kemenangan dalam Pilpres 2019 bukan tujuan dari sebuah kontestasi politik. Karena kalah dan menang dalam politik tidak abadi. Kalah dan menang bisa datang dan kemudian pergi. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, demikian pepata klasik.
Jokowi sadar bahwa siapapun yang menjadikan kalah atau menang sebagai tujuan maka ia sedang menjalani hidup yang palsu.
Karena sejatinya, hajatan politik bahkan hidup ini bukanlah soal kalah atau menang. Pilpres bukan perlombaan apalagi pertempuran. Pilpres bahkan hidup ini adalah sebuah pertandingan yang membutuhkan kebesaran hati dan kekuatan jiwa demi bonum commune.
Hati dan jiwa yang membuat kita melampaui kalah atau menang dan mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi tanpa rasa takut. Karena bagaimana pun juga kita tetap bersama baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk polis.
Tak perlu takut saat kalah tapi tak perlu sombong saat menang. Kita tidak bisa menang, kecuali jika kita belajar bagaimana untuk kalah. Sejarah bahwa Jokowi memasukan Prabowo dan Sandiaga Uno dalam timnya menunjuk tingginya sikap sportivitas Jokowi sebagai seorang politisi dan negarawan sejati.
Filsuf peraih hadiah Nobel, Albert Camus, menyebut sportivitas sebagai nilai yang membangun karakter manusia, tak ada hubungan secara langsung dengan kekalahan dan kemenangan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan.
Sportivitas mengutamakan proses, mengajarkan manusia untuk menemukan nilai-nilai ideal berupa kejujuran dan keadilan yang bermuara pada martabat.
Bagi Jowkowi, basis persaingan harus dikembalikan pada visi, misi, dan program, bukan kebencian dan permusuhan. Visi bicara tentang cita-cita ideal perjuangan. Misi bicara tentang cara/tindakan mewujudkan cita-cita. Dan program merupakan praksis dari visi dan misi. Cita-cita dan visi-misi tercapai jika dalam kebersamaan.
Ini sebuah pembelajaran bagi anak bangsa. Bahwa hajatan politik lima tahunan apapun bentuknya harus dipahami sebagai bagian dari kultur demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan kolektif. Kultur demokrasi yang selalu berbasis pada etika, moral, dan etos sehingga memberikan inspirasi dan pencerahan kepada publik.
Itulah demokrasi bijak, cerdas dan visioner yang Jokowi tunjukkan. Karena sebagai pemimpin tertinggi di negeri ini, Jokowi adalah agen kebudayaan, bukan sekadar pemenang dan punya kekuasaan. Ia tentu menujunjung tinggi peradaban dan kebersamaan demi kepentingan bangsa dan negara.
sumber : Abd. Hamid Serang
Editor : Mustafa Kamal







0 Komentar