Foto: (dari kiri ke kanan) *Drs. H.M. Hatta, M.Si Kr. Gajang  Bersama Mustafa Kamal Tim IMC news/ Dok. IMC News*

*MAKASSAR, http://IMCNews.co.id* – Badik bukan sekadar senjata tajam. Bagi masyarakat Bugis Makassar, badik adalah simbol harga diri, keberanian, dan warisan leluhur yang sarat nilai filosofi. Hal ini ditegaskan *Drs. H.M. Hatta, M.Si Kr. Gajang*, selaku Pemerhati Benda Pusaka sekaligus kolektor badik pusaka Bugis Makassar.

Menurut Kr. Gajang, pelestarian badik sebagai benda pusaka penting agar generasi muda tidak kehilangan jati diri budayanya. 

“Badik itu bukan untuk melukai. Dalam falsafah Bugis Makassar, badik adalah _pangngadereng_, penjaga siri’ na pacce. Ia ditarik hanya untuk membela kebenaran dan kehormatan. Kalau nilai ini hilang, kita kehilangan akar,” jelas Drs. H.M. Hatta, M.Si Kr. Gajang saat ditemui di kediamannya, Rabu 3/6/2026.

*Badik Sarat Simbol dan Tua Usia*

Sebagai kolektor, Kr. Gajang memiliki puluhan bilah badik pusaka dengan berbagai model: _badik luwu, badik gecong, badik lagogoi_, hingga badik kerajaan. Usianya ada yang ratusan tahun, diwariskan turun-temurun.

“Setiap lekukan, setiap pamor pada bilah badik itu ada maknanya. Ada yang disebut _pamor uleng puleng_, _la timojong_, itu semua doa dan harapan leluhur. Hulu dan sarungnya juga pakai kayu pilihan, gading, atau tanduk yang dipahat penuh filosofi,” ungkapnya sambil menunjukkan koleksi badik pusaka miliknya.

*Ancaman Kepunahan Budaya*

Kr. Gajang menyayangkan mulai lunturnya pemahaman anak muda tentang badik. Banyak yang menganggap badik hanya senjata kriminal, padahal fungsi aslinya adalah benda budaya.

“Kalau tidak kita lestarikan, 20-30 tahun lagi anak cucu kita hanya kenal badik dari berita tawuran. Padahal badik itu identitas. Di luar negeri, keris Jawa sudah diakui UNESCO. Badik Bugis Makassar juga harus kita perjuangkan,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah daerah, dinas kebudayaan, dan komunitas budaya untuk membuat *museum badik, workshop tempa tradisional, dan kurikulum muatan lokal* tentang benda pusaka di sekolah.

“Pelestarian itu bukan cuma menyimpan. Tapi juga mengenalkan makna, cara merawat, dan etika membawa badik. Jangan sampai pusaka leluhur kita punah karena kita abai,” tutup Kr. Gajang.

*Penulis: Mustafa Kamal Tim IMC News Makassar*

Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan