TANAH SURGA YANG MENJERIT: Dari Sabang Sampai Merauke Punya Tambang & Sawit, Kenapa Rakyat Masih Miskin? - Koes Plus Sudah Ingatkan 50 Tahun Lalu!*
*MAKASSAR - INVESTIGASI KHUSUS, IMC NEWS CELEBES MAGAZINE |* Koes Plus, legenda musik Indonesia, 50 tahun lalu sudah bernyanyi lantang dalam lagu _Kolam Susu_:
_"Bukan lautan, hanya kolam susu... Tongkat kayu dan batu jadi tanaman... Tanah kita tanah surga..."
Lirik itu bukan sekadar lagu. Itu adalah fakta geografi. Itu adalah kebenaran yang hari ini menjadi ironi paling menyakitkan.
*NEGARA TERKAYA YANG PURA-PURA MISKIN*
Mari kita buka data real, bukan data pencitraan:
*Dari Sabang sampai Merauke kita punya:*
1. *Nikel:* Indonesia menguasai 52% cadangan nikel DUNIA. Nikel adalah darahnya mobil listrik Tesla, baterai masa depan. Harganya triliunan dollar.
2. *Sawit:* 59% minyak sawit dunia dari Indonesia. 16 juta hektar kebun, terbesar di planet ini.
3. *Batu Bara:* Cadangan 39 miliar ton, ekspor terbesar kedua di dunia.
4. *Emas & Tembaga:* Freeport di Papua adalah tambang emas terbesar kedua di dunia. Satu gunung emas dikeruk 50 tahun tidak habis.
5. *Timah, Bauksit, Gas, Ikan:* Semua ada.
IMF mencatat, nilai Sumber Daya Alam Indonesia jika diuangkan mencapai *$400.000 triliun.* Seharusnya setiap bayi lahir di Indonesia sudah jadi miliarder.
*TAPI KENAPA RAKYAT MENJERIT?*
pertanyaan 280 juta rakyat: *Jika tanah kita tanah surga, kenapa hidup kita seperti di neraka?*
Jawabannya bukan karena kita miskin SDA, tapi karena *3 KANKER GANAS PENGELOLAAN TAMBANG:*
*KANKER 1: KORUPSI YANG SUDAH MERAJA LELA - IZIN TAMBANG DIJUAL BELI*
Ini kanker paling mematikan. Data KPK:
- Lebih dari *40% Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Indonesia bermasalah* - tumpang tindih, tidak bayar pajak, merusak hutan lindung.
- Kasus terbaru: Korupsi timah di Bangka Belitung merugikan negara *Rp 300 TRILIUN* - terbesar dalam sejarah Indonesia! Pejabat, pengusaha, aparat kongkalikong.
- Di Sulawesi Tenggara, tambang nikel ilegal di dalam hutan lindung dibiarkan, karena setoran ke oknum Rp 5 miliar per bulan ?.
Politik tambang adalah politik balas budi. Siapa yang biayai kampanye Pilkada & Pilpres, dia yang dapat konsesi tambang 10.000 hektar. Rakyat hanya dapat debu dan banjir.
Seperti kata Bung Hatta: _"Indonesia tidak akan hancur karena serangan musuh, tapi hancur karena korupsinya sendiri."_
*KANKER 2: FAKTOR POLITIK - KITA JUAL BAHAN MENTAH, MEREKA JUAL BARANG JADI*
Ini kesalahan politik 50 tahun. Kita bangga ekspor mentah!
- Nikel mentah kita ekspor ke China harga $20. China olah jadi baterai, jual balik ke kita harga $2.000. Untung 100 kali lipat di mereka.
- Sawit mentah kita ekspor, mereka olah jadi kosmetik, margarin, biodiesel, untung 50 kali lipat.
- Emas Papua dikeruk Freeport 50 tahun, kita hanya dapat 9% saham sampai 2018 kemarin.
Kenapa? Karena politik kita takut dengan negara asing. Tidak berani seperti *Ibrahim Traore di Burkina Faso* yang berani nasionalisasi tambang emas dan usir perusahaan Prancis. Kita masih mental terjajah: "Kalau tidak ada investor asing, kita tidak bisa kelola."
Padahal Singapura tidak punya tambang sama sekali bisa kaya karena mengolah, bukan menjual mentah!
*KANKER 3: RAKYAT HANYA JADI PENONTON DI TANAHNYA SENDIRI*
Di Morowali, Sultra, 70% tanah adalah tambang nikel. Tapi anak-anak di sana putus sekolah, air sumur merah karena limbah, jalan rusak parah. Keuntungan tambang 80% lari ke Jakarta & ke China, hanya 20% untuk daerah.
Di Kalimantan, hutan adat Dayak dibabat untuk sawit. Rakyat adat diusir dari tanah leluhurnya sendiri yang sudah mereka jaga 500 tahun.
Inilah yang disebut *Kutukan Sumber Daya Alam (Resource Curse).* Negara kaya SDA justru rakyatnya miskin karena yang menikmati hanya elit politik & pengusaha di pusat.
*APA YANG HARUS DILAKUKAN? - BELAJAR DARI KOES PLUS & TRAORE*
Koes Plus sudah kasih solusi dalam lagunya: _"Orang bilang tanah kita tanah surga."_ Artinya surga itu harus dijaga, bukan dijual!
1. *Nasionalisasi Bertahap:* Seperti Burkina Faso, negara harus berani ambil alih tambang strategis. Freeport 100% harus milik Indonesia, bukan Amerika.
2. *Hilirisasi Total:* Stop ekspor mentah! Wajib bangun smelter & pabrik di Indonesia. Buka lapangan kerja untuk anak Makassar, bukan anak Shanghai.
3. *Hukum Mati Koruptor Tambang:* Jika korupsi timah Rp 300 Triliun hanya dihukum 6 tahun penjara, maka tidak akan ada efek jera. Tiru China & Rwanda.
4. *Kembalikan Tanah ke Rakyat:* 40% sawit harus milik koperasi rakyat, bukan konglomerat.
Jika tidak, maka 20 tahun lagi lagu Koes Plus akan berubah liriknya: _"Bukan kolam susu, hanya kolam air mata..."_
*###*
*Penulis: Kamal Petta Pabbicara*
*Investigasi: Tim Investigasi IMC NEWS CELEBES MAGAZINE - Makassar*
*Referensi Lagu: Koes Plus - Kolam Susu (1973)*







0 Komentar