Bahaya Misinterpretasi Data Kemiskinan oleh Bupati: Dampaknya pada Kesejahteraan Rakyat.


Celebes Magazine.Com.-Catatan Kecil Oleh :

Yusdaliah Yusuf Iccu .

PENGANTAR :

Membaca salah satu Berita online yang di realis oleh, 

 Sabtu (7/6/2025).

BARRU— Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, SH., M.Si, bersama Wakil Bupati Ir. Dr. Abustan AB, M.Si, menyambut kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI, Dr. Robben Rico, A.Md. LLAJ, SH., ST., M.Si, di SMP Negeri 8 Barru, Desa Harapan, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Dalam artikel Catatan Kecil kali ini, saya tidak akan membahas masalah berita tersebut. Tapi akan fokus pada sambutan bupati yang membeberkan data :

" Bahwa angka kemiskinan di Barru saat ini mencapai 31, 1%, dengan kemiskinan ekstrem sebesar **0, 02%. Program Sekolah Rakyat diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menekan angka tersebut".

■ FANTASTIK :

Bagi orang yang paham statistik, pasti akan tercengang mendengar  Angka 31,1% kemiskinan dan **0,02% kemiskinan ekstrim ini sangat mencengankan.

Karena ini memperlihatkan trend adanya loncatan karena adanya "kejadian luar-biasa", berupa bencana alam yang dahsyat misalnya, banjir bandang" yang menimpa 20% pemukiman penduduk, sehingga memiskinkan penduduk sampai 31,1% dari angka yang sebelumnya antara 8-9% dengan jumlah jiwa sekitar angka 15.000, di akhir tahun 2024 (sumber BPS Barru).

Kemungkinan lain yang dapat kita interpretasikan dari data yang disampaikan ibu bupati, loncatan tersebut mengindikasikan, dalam rentang waktu Februari s/d akhir Mei 2025 terjadi kemiskinan baru sebesar 20%, artinya dari 100 hari pemerintahan bupati terpilih sebesar 20%.

Sementara itu kita juga bisa berpikir, bahwa ada kesengajaan mengekspos angka tersebut didepan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI, Dr. Robben Rico, dengan maksut tertentu, misalnya sebagai strategi untuk mendapatkan alokasi anggaran yang lebih besar. Jika betul demikian maka, betapa tidak berintegritasnya seorang bupati memaparkan data yang di mark-up untuk kepentingan pembangunan dengan potensi korupsi yang besar.

Jelas, ketiga contoh faktor penyebab tersebut diatas adalah kemustahilan, tapi apapun yang kita dalilkan sebagai faktor penyebab, ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab, yaitu : (1) dari mana angka tersebut muncul, (2). Apakah bupati kita paham tentang statistik.

■ DAMPAK BURUK :

Kemampuan seorang bupati dalam menginterpretasi data kemiskinan dan kemiskinan ekstrem merupakan kunci keberhasilan pembangunan daerah.  

Komunikasi dan Interpretasi data yang keliru dan penyampaian informasi yang salah kepada warga dapat berdampak serius dan meluas, mengancam kesejahteraan masyarakat serta menghambat pembangunan berkelanjutan.

Salah satu dampak paling nyata adalah kebijakan publik yang tidak efektif.  Data yang salah tafsir akan menghasilkan program-program yang tidak tepat sasaran.  

Upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja menjadi sia-sia karena tidak didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang permasalahan sebenarnya.  

Akibatnya, alokasi anggaran menjadi tidak efisien, dan dana publik terbuang percuma.  Dana yang seharusnya digunakan untuk membantu kelompok paling membutuhkan justru dialokasikan secara tidak tepat.

Lebih jauh lagi, misinterpretasi data berpotensi besar mengurangi kepercayaan publik.  Ketika warga menyadari ketidak akuratan informasi yang disampaikan oleh bupati, kepercayaan mereka terhadap pemerintah daerah akan menurun drastis.  Hal ini dapat memicu apatisme politik, kesulitan dalam implementasi program-program pemerintah, dan bahkan berujung pada protes atau demonstrasi yang mengganggu stabilitas daerah, seperti yang menggejala akhir-akhir ini.

Dampak negatif lainnya adalah perburukan kondisi sosial-ekonomi.  Kegagalan dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran akibat kebijakan yang salah akan memperlebar jurang ketimpangan pendapatan.  Kondisi ini dapat memicu peningkatan angka kriminalitas dan ketidakstabilan sosial, sehingga visi Bupati INIMI yaitu: "Barru Berkeadilan" semakin jauh dari harapan.

Selain itu, misinterpretasi data juga menjadi hambatan serius bagi pembangunan berkelanjutan.  Data yang akurat dan interpretasi yang tepat sangat penting dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, khususnya dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).  

Data yang salah akan menghambat upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan pekerjaan layak,  mengakibatkan pembangunan yang tidak berkelanjutan dan tidak merata, sehingga visi Bupati INIMI, yaitu: "Barru maju berkelanjutan", hanya slogan kosong belaka.

Ketidak akuratan data juga mempersulit pengukuran efektivitas program.  Tanpa data yang handal, pemerintah daerah kesulitan mengevaluasi keberhasilan program-program yang telah dijalankan.  Akibatnya, pemerintah tidak dapat belajar dari kesalahan dan memperbaiki strategi mereka, menciptakan siklus yang terus berulang dan menghambat kemajuan sehingga visi Bupati INIMI yaitu : "Barru sejahterah lebih cepat" hanya menjadi janji-janji kampanye yang berpotensi menjadi pembohongan publik semata.

Terakhir, interpretasi data yang keliru dapat menyebabkan pengabaian kelompok rentan.  Program bantuan sosial mungkin tidak tepat sasaran, sehingga kelompok masyarakat yang paling membutuhkan justru tidak mendapatkan bantuan yang seharusnya mereka terima.  Ini memperparah kesenjangan sosial dan memperkuat ketidakadilan.

■ KESIMPULAN : 

Akurasi data dan interpretasinya merupakan hal yang krusial bagi seorang bupati.  Kemampuan untuk menyampaikan informasi yang jujur dan transparan kepada warga sangat penting untuk keberhasilan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.  Kegagalan dalam hal ini akan berdampak negatif yang luas dan berkelanjutan, mengancam kemajuan dan stabilitas daerah.  

Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan data menjadi sangat penting untuk dijamin.

Singkatnya, ambisi menjadi bupati dan wakil bupati harus disertai kemampuan dan logika yang "layak & patut" bagi pengembang amanah 170.000 warga Barru.

Semoga bermanpaat, wassalam

Barru, 8 Juni 2025.

Yusdaliah Yusuf Iccu.

Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS


 subscribe

Nelly Hasma Kamal




Posting Komentar

0 Komentar