Mustafa Kamal: Kisah 4 Payung di Barru* itu simbol penyatuan 4 kerajaan yang sekarang jadi Kabupaten Barru.

    

  Mengupas Fakta Sejarah Bugis Makassar


Foto Mustafa Kamal: Pemerhati Sejarah, Adat, budaya Bugis Makassar & situs Purbakala Sulawesi Selaran 



Mustafa Kamal: Kisah 4 Payung di Barru* itu simbol penyatuan 4 kerajaan yang sekarang jadi Kabupaten Barru.


Foto dok IMC News: Tugu 4 payung terletak di persimpangan 4 Kota Barru, Jl Poros Palopo-Makassar, Kelurahan Sumpang Binangae.

*Asal-usul 4 Payung*
Sebelum 1965, wilayah Barru bukan satu kabupaten. Ada 4 kerajaan besar yang berdiri sendiri:
1. *Kerajaan Tanete* - berpusat di Tanete Rilau
2. *Kerajaan Barru/Berru* - berpusat di Barru kota
3. *Kerajaan Soppeng Riaja* - berpusat di Soppeng Riaja
4. *Kerajaan Mallusetasi* - wilayahnya meliputi Suppa, Parepare lama, Bojo, Nepo. Ibukotanya Palanro

Keempat kerajaan ini bersatu jadi *Kabupaten Barru* pada 20 Februari 1965. 

 *Makna Tugu 4 Payung*
Tugu 4 payung terletak di persimpangan 4 Kota Barru, Jl Poros Palopo-Makassar, Kelurahan Sumpang Binangae. 

- *4 payung tertutup* = simbol 4 kerajaan yang bersatu jadi satu kabupaten
- Payung dalam budaya Bugis-Makassar adalah lambang kerajaan dan status sosial raja
- Filosofinya: “makkatettongeng” artinya beberapa payung berdiri tertutup bersama. Artinya meski berbeda asal, sekarang bersatu dan saling melindungi

 *Sejarah nama Barru*
Nama “Barru” berasal dari kata *Berru*, dari pohon *Aju Berru* yang banyak tumbuh di daerah Ajjarengnge, utara kota Barru sekarang. Kayunya dianggap sakral dan dipakai untuk pengobatan.

Sebelum jadi kerajaan, wilayah itu dipimpin *Puang Ri Bulu* dan *Puang Ri Cempa*. Kerajaan Barru sendiri dipimpin 24 arung dengan gelar “Arung”. 

 *Lokasi tugu*
Kamu bisa lihat tugu ini di tengah kota Barru. Ada juga tugu batas kota berbentuk kubah masjid di Garesi Tanete Rilau dan Mangempang Barru, karena Barru dijuluki “Kota Santri”. 

Jadi “kisah 4 payung” bukan legenda mistis, tapi kisah nyata penyatuan 4 kerajaan Bugis jadi Kabupaten Barru. Payungnya sengaja dibuat tertutup biar kelihatan bersatu, nggak ada yang lebih tinggi dari yang lain.

*asal-usul 4 kerajaan yang disimbolkan 4 payung di Barru*:

1. *Kerajaan Tanete*
- *Lokasi*: Tanete Rilau, 
- *Sejarah*: Salah satu kerajaan tertua di Barru. Wilayahnya subur, jadi pusat perdagangan dan pertanian. 
- *Ciri*: Tanete punya sistem pemerintahan yang kuat dengan gelar raja *Arung Tanete*. Banyak keturunan bangsawan Tanete yang masih dihormati sampai sekarang.
- *Peran*: Jadi pusat penyatuan karena lokasinya di tengah wilayah Barru.

2. *Kerajaan Barru/Berru*
- *Lokasi*: Sekitar Kota Barru sekarang, pusatnya di Ajjarengnge
- *Asal nama*: Dari pohon *Aju Berru* yang dianggap sakral. Kayunya dipakai untuk obat dan upacara adat.
- *Pemerintahan*: Dipimpin oleh *Puang Ri Bulu* dan *Puang Ri Cempa* sebelum jadi kerajaan. Setelah jadi kerajaan, dipimpin 24 Arung Barru secara bergilir.
- *Ciri*: Wilayah pesisir, jadi pusat pelayaran dan perdagangan Bugis.

3. *Kerajaan Soppeng Riaja*
- *Lokasi*: Soppeng Riaja, sebelah timur Barru
- *Hubungan*: Cabang dari Kerajaan Soppeng besar. “Riaja” artinya wilayah hulu/timur.
- *Ciri*: Lebih ke wilayah agraris dan pegunungan. Punya adat istiadat yang masih kental dengan Soppeng induk.
- *Peran*: Jadi penyangga wilayah timur Barru dan penghubung dengan Soppeng induk.

4. *Kerajaan Mallusetasi*
- *Lokasi*: Wilayahnya luas, meliputi Suppa, Parepare lama, Bojo, Nepo. Ibu kotanya *Palanro*.
- *Sejarah*: Kerajaan besar yang pernah jadi penghubung Bugis dan Mandar. Nama “Mallusetasi” artinya “laut yang luas”, karena wilayahnya sampai ke pesisir.
- *Ciri*: Punya armada laut kuat, jadi pusat perdagangan maritim.
- *Peran*: Setelah gabung ke Barru, wilayah Parepare lama dipisah jadi Kota Parepare sendiri.

*Penyatuan jadi Kabupaten Barru*  
Tahun 1960-an, pemerintah pusat menggabungkan 4 kerajaan ini jadi satu kabupaten biar lebih efektif. Tanggal 20 Februari 1965 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Barru. 

Makanya di tugu 4 payung, semua payung dibuat *tertutup dan sejajar* — simbol bahwa nggak ada yang lebih tinggi, semua bersatu jadi Barru.
(Bersambung).

Pewarta  : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7

Vra

u In
o iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan

  



Posting Komentar

0 Komentar