EDISI ADAT & BUDAYA MANGKASARAK:* Tokoh Panutan Tanah Mangkasara: Drs. H.M. Hatta Hamzah, MM Kr. Gajang & Prof. Halilintar Latef di Mata Adat dan Budaya Makassar Sulawesi Selatan

          


       EDISI ADAT & BUDAYA MANGKASARAK:*

Tokoh Panutan Tanah Mangkasara: Drs. H.M. Hatta Hamzah, MM Kr. Gajang & Prof. Halilintar Latef di Mata Adat dan Budaya Makassar Sulawesi Selatan


*MAKASSAR, GOWA, SULSEL - IMC NEWS —* Di tanah Mangkasara yang kaya akan nilai *Siri' Na Pacce* dan *Pangadakkang*, ada dua nama yang tak bisa dipisahkan dari marwah adat dan budaya Makassar. Mereka bukan sekadar tokoh, tapi adalah *Pabbicara Butta* dan *Panutan Tau Mangkasara*. Beliau adalah *Drs. H.M. Hatta Hamzah, MM dengan gelar adat Karaeng Gajang (Kr. Gajang)* dan *Prof. Halilintar Latef.*

Kedua tokoh ini adalah representasi sempurna dari pepatah Makassar: *"Toddo Puli Temmalara, Bija Mangkasara' Teai Bija Kalu-Kalu".*

*1. DRS. H.M. HATTA HAMZAH, MM - KARAENG GAJANG (Kr. GAJANG): PABBIcara YANG TEDUH & BIJAKSANA*

Di mata adat Makassar, sosok *Puang Hatta Hamzah* yang menyandang gelar *Kr. Gajang* adalah sosok *Karaeng yang sesungguhnya.*

Kr. Gajang bukan hanya gelar, tapi adalah amanah. Gajang adalah simbol kewibawaan, ketegasan, dan pelindung rakyat. Dalam setiap perhelatan adat, baik di Gowa, Takalar, maupun di Makassar, sosok Kr. Gajang selalu hadir dengan wibawa yang teduh.

*Di Mata Adat:*
- *Pangngadakkang:* Beliau sangat memegang teguh adat istiadat. Tutur katanya *"Bicarra Mangkasara"* yang lembut namun tegas, menunjukkan beliau adalah penjaga nilai-nilai *Ade' Mangkasara.*
- *Pallawa:* Sebagai tokoh yang dituakan, beliau menjadi tempat *A'boya (bertanya)* dan *Appala' Doang (meminta petunjuk)* bagi anak-anak muda Mangkasara. Banyak sengketa adat yang selesai karena kebijaksanaan beliau.
- *Siri' Na Pacce:* Dalam diri Kr. Gajang, nilai Siri' (harga diri) dan Pacce (rasa empati dan solidaritas) hidup nyata. Beliau tidak segan membela yang lemah dan menjaga marwah keluarga besar Mangkasara.

*Di Mata Budaya:*
Puang Hatta Hamzah adalah jembatan antara generasi tua dan muda. Dengan latar belakang pendidikan MM dan pengalaman birokrasi yang panjang, beliau mampu mengemas budaya Makassar agar tetap relevan di era modern. Beliau adalah sosok yang selalu mendorong agar *Lontara, Pa'lontara, dan Passinrili'* tidak hanya menjadi pajangan, tapi menjadi pedoman hidup.

"Bija Mangkasara harus bangga jadi Mangkasara. Jangan malu pakai baju adat, jangan malu bicara bahasa Mangkasara," adalah pesan yang sering beliau sampaikan.

*2. PROF. HALILINTAR LATEF: CERDIK PANDAI & AKADEMIKI YANG MEMBUMI*

Jika Kr. Gajang adalah simbol kebijaksanaan adat, maka *Prof. Halilintar Latef* adalah simbol *kecerdasan dan intelektualitas Mangkasara.*

Gelar Profesor yang beliau sandang tidak membuat beliau jauh dari akar budaya. Justru sebaliknya, keilmuan beliau digunakan untuk mengangkat derajat adat dan budaya Makassar ke kancah nasional dan internasional.

*Di Mata Adat:*
Prof. Halilintar Latef dipandang sebagai *"Cerdik Pandai"* atau *"Panrita"* dalam struktur adat Makassar. Beliau adalah tempat merujuk ketika ada kekeliruan dalam penafsiran adat.

Pemikiran beliau yang kritis namun tetap santun, membuat beliau sangat dihormati di kalangan Raja-Raja, Karaeng, dan pemangku adat se-Sulawesi Selatan. Beliau mampu menjelaskan makna filosofis dari setiap ritual adat Makassar dengan logika akademik yang mudah dipahami, sehingga generasi milenial pun bisa mencintai adatnya.

*Di Mata Budaya:*
Peran Prof. Halilintar Latef dalam pelestarian budaya sangat besar. Melalui karya-karya ilmiah, tulisan, dan ceramah-ceramah budaya, beliau terus menghidupkan kembali nilai-nilai *Sombayya, Karaeng, dan Ana' Karaeng* dalam konteks kekinian.

Beliau adalah bukti bahwa menjadi modern tidak harus meninggalkan adat. Beliau adalah bukti bahwa orang Mangkasara bisa menjadi profesor, bisa mendunia, tapi tetap *"Akkampong Ri Butta Mangkasara"* - hatinya tetap di kampung, di tanah Mangkasara.

*DUA SOSOK, SATU JIWA: MANGKASARA JAYA!*

Drs. H.M. Hatta Hamzah, MM Kr. Gajang & Prof. Halilintar Latef adalah *Dwitunggal Panutan Mangkasara.* Satu dengan jalur adat kebijaksanaan (Kr. Gajang), satu dengan jalur akademik kecerdasan (Profesor).

Keduanya saling melengkapi. Jika Kr. Gajang menjaga jantung adat, Prof. Halilintar menjaga nalar dan masa depan adat.

Di era gempuran budaya luar, di era TikTok dan modernisasi, kehadiran dua tokoh seperti beliau adalah *oase*. Mereka adalah benteng terakhir agar generasi Mangkasara tidak kehilangan jati dirinya.

*Puang Hatta Kr. Gajang dan Prof. Halilintar Latef adalah Siri'na Mangkasara!*

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur panjang, dan kekuatan kepada kedua tokoh panutan kita untuk terus membimbing anak cucu Mangkasara.

*A'jari Bija Mangkasara! Ewako!*

*Penulis: Kamal Petta Pabbicara - Celebes Magazine -
*Makassar - Gowa, 17 Oktober 2026*


*Catatan Redaksi*
2 TOKOH PANUTAN MANGKASARA! 

Di mata Adat & Budaya Makassar, beliau adalah MARWAH KITA!

1. Drs. H.M. Hatta Hamzah, MM Kr. Gajang - Karaeng yang Teduh, Bijaksana, Penjaga Siri' Na Pacce!
2. Prof. Halilintar Latef - Cerdik Pandai, Panrita yang Bikin Adat Mangkasara Mendunia!

Sehatki selalu Puang Karaeng! Ewako Mangkasara! 🔥


#HattaHamzah #KrGajang #ProfHalilintarLatef #AdatMakassar #BudayaMakassar #Mangkasara #ButtaGowa #KaraengGajang #PuangHatta #CelebesMagazine #IMCNews #SiriNaPacce #PabbicaraButta

ULDIA CL


E REM

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subia



o Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan

       
5

Posting Komentar

0 Komentar