*Edisi Budaya Nusantara - Eksklusif* MENYIBAK 400 MAHKOTA DI JANTUNG BORNEO: Struktur Raja dan Adat Budaya Dayak yang Tak Pernah Padam*

            


       *Edisi Budaya Nusantara - Eksklusif*

MENYIBAK 400 MAHKOTA DI JANTUNG BORNEO: Struktur Raja dan Adat Budaya Dayak yang Tak Pernah Padam*

*MAKASSAR / KALIMANTAN -* Jika Jawa punya Kraton, Borneo punya Betang. Jika di Sulawesi kita mengenal Karaeng dan Puang, di Borneo ada Maren, Damang, dan Temenggung. Suku Dayak bukanlah satu suku, melainkan payung besar bagi lebih dari 400 sub-suku yang membentang dari Kalimantan Indonesia, Sabah-Sarawak Malaysia, hingga Brunei Darussalam.

Tim Riset Budaya Celebes Magazine dan IMC News merangkum struktur adat Dayak yang jarang diulas, bahwa sistem kepemimpinan Dayak bukanlah sistem kerajaan terpusat, melainkan konfederasi kampung adat yang berdaulat dan dipimpin oleh Raja Adat.

*1. KERAJAAN BERAKAR DAYAK: Jejak Kejayaan Sebelum Islam dan Melayu*

Banyak yang mengira Borneo tak pernah punya kerajaan. Fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Inilah kerajaan-kerajaan tua yang pendirinya adalah murni orang Dayak:

*a. Kerajaan Nansarunai (Maanyan) - Kalsel*
Dipercaya sebagai kerajaan Dayak tertua, eksis pada abad 12-14 di wilayah Tabalong dan Balangan. Raja terkenalnya adalah *Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papurui*. Runtuhnya kerajaan ini oleh serangan Majapahit menjadi cikal bakal diaspora Dayak Maanyan hingga ke Madagaskar.

*b. Kerajaan Tanjungpuri (Dayak Meratus / Bukit)*
Cikal bakal Kerajaan Banjar. Penduduk aslinya adalah Dayak Meratus yang kemudian berakulturasi.

*c. Kerajaan Kutai Martapura (Dayak Kutai / Kenyah)*
Kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Raja pertamanya bukan dari India, tapi asli Dayak: *Kudungga*, dilanjutkan putranya *Aswawarman* dan cucunya yang terkenal *Mulawarman* dengan 7 Prasasti Yupa abad ke-4.

*d. Kerajaan Sintang, Sanggau, Sekadau, Tayan, Belitang*
Berada di jantung Kalimantan Barat. Pendirinya adalah *Jubair Irawan I (Dayak Senunuk)* dari Suku Dayak Sintang & Dayak Desa. Hingga hari ini Kesultanan Sintang masih eksis dan rajanya masih berdarah Dayak.

*e. Kerajaan Pujungan / Kayan di Apo Kayan, Kaltara*
Dipimpin oleh gelar *Maren atau Raja*. Wilayah ini disebut jantung peradaban Dayak Kayan-Kenyah-Bahau.

*2. GELAR RAJA ADAT DAYAK YANG MASIH HIDUP HINGGA 2026*

Tidak ada satu Raja Dayak untuk seluruh Borneo. Setiap rumpun punya gelar:

- *Dayak Ngaju, Maanyan, Ot Danum (Kalteng-Kalsel):* Gelar tertingginya *Damang Kepala Adat, Mantir, dan Patinggi.* Damang adalah hakim adat tertinggi yang keputusannya mengikat.
- *Dayak Kenyah, Kayan, Bahau (Kaltim-Kaltara-Sarawak):* Gelarnya *Maren / Maren Umaq dan Kepala Adat Besar / Hippui.* Maren adalah bangsawan tinggi.
- *Dayak Iban / Sea Dayak (Kalbar-Sarawak-Brunei):* Dipimpin *Tuai Rumah (Kepala Rumah Panjang), Penghulu, dan Temenggung.* Temenggung Jugah Anak Barieng adalah pahlawan nasional Malaysia dari Iban.
- *Dayak Bidayuh / Land Dayak (Kalbar-Sarawak):* *Temenggung / Pati Adat.*
- *Dayak Kanayatn / Salako (Kalbar):* *Timanggong dan Pasirah.*
- *Dayak Lun Dayeh / Lundayeh (Kaltara-Sabah):* *Maren dan Lun Do'.*

*TOKOH SIMBOLIS RAJA ADAT MODERN:*
- *Raja Kutai Kartanegara:* Sultan Aji Muhammad Arifin
- *Raja Sintang:* Raden Panji Priyadi Kusnandar
- *Bapak Dayak Nasional:* Oevang Oeray - Gubernur pertama Kalbar, tokoh pemersatu Dayak pertama yang mendirikan Partai Dayak.

*3. ADAT BUDAYA INTI: NADI YANG SAMA DARI GUNUNG KE LAUT*

*A. Hukum Adat:*
*Hukum Tiwah (Suku Ngaju):* Upacara kematian sekunder paling megah di Indonesia. Tulang leluhur diangkat dan diantar ke Sandung (rumah tulang). Biayanya bisa ratusan juta, sebagai bentuk bakti tertinggi.
*Gawai Dayak / Gawea:* Pesta panen raya terbesar, puncaknya setiap 20 Mei - 1 Juni. Ditetapkan sebagai hari libur resmi di Sarawak dan perayaan terbesar di Kalbar.
*Hukum Bejant / Adat Bepantang:* Sistem denda adat yang masih lebih ditakuti daripada hukum pidana.

*B. Rumah & Simbol Sakral:*
*Rumah Betang / Rumah Panjang:* Bisa panjang 100-300 meter, dihuni 1 kampung 50-150 kepala keluarga. Filosofinya: satu atap, satu darah.
*Sandung, Hampatung, dan Sapundu:* Patung kayu raksasa penjaga arwah dan status sosial.
*Mandau dan Sumpit:* Bukan sekadar senjata, tapi benda pusaka yang punya roh penjaga.

*C. Seni & Identitas Tubuh:*
*Tato / Titi / Tedak:* Pada Dayak Kayan, Kenyah, Iban, tato adalah paspor kehidupan. Jumlah tato menandakan berapa kepala musuh yang diambil, berapa sungai besar yang sudah diarungi.
*Telinga Panjang:* Tradisi memanjangkan telinga dengan anting pemberat pada Dayak Kenyah & Bahau, sebagai simbol kecantikan dan kebangsawanan.
*Tari Hudoq, Ngajat, Giring-Giring, dan Tari Mandau:* Tarian untuk mengusir hama, menyambut tamu, dan perang.

*D. Kepercayaan Asli:*
*Kaharingan:* Kepercayaan asli Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, kini resmi masuk dalam Hindu Kaharingan. Kitab sucinya Panaturan.
*Adat Bungan dan Lungan:* Masih dianut di pedalaman Kalbar.

---

*CATATAN REDAKSI IMC NEWS - CELEBES MAGAZINE*

Filosofi Dayak sangat dekat dengan filosofi orang Bugis-Makassar: _Dimana Bumi Dipijak, Disitu Adat Dijunjung._ Di Gowa dan Makassar, banyak warga Dayak yang merantau dan telah menjadi bagian dari keluarga besar Sulawesi Selatan.

Pelestarian Rumah Betang sama pentingnya dengan pelestarian Balla Lompoa dan Tongkonan. Inilah kekayaan Borneo, kekayaan Indonesia.

Laporan; Zulkify Murad
Penulis: Kamal Petta Pabbicara 
Editor: Syamsuddin. AR,S.sos.
*Tim Redaksi Budaya:*
*IMC News & Celebes Magazine*
*MMAKASSAR - KALIMANTAN - Nusantara*

ULDIA CL


E REM

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subia



o Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan

       
5

Posting Komentar

0 Komentar