MIMBAR ARKEOLOGI, SEJARAH & KEBUDAYAAN*
*EDISI KHUSUS OKTOBER 2026 - LAPORAN KHUSUS*
*MENGENAL SOSOK SRIKANDI ARKEOLOGI SULSEL: Dra. MUHAEMINAH, M.Si. -
PENELITI SENIOR BALAI ARKEOLOGI SULSEL, SANG IBU-NYA ARKEOLOGI SULSEL*
*MAKASSAR, IMC NEWS - Celebes Magazine -* Di balik megahnya koleksi Museum Balla Lompoa Sungguminasa dan kokohnya sisa-sisa Benteng Somba Opu, ada sosok perempuan tangguh yang puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk menggali, meneliti, dan menjaga jejak kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo. Beliau adalah *Dra. Muhaeminah, http://M.Si.*
Bagi kalangan arkeolog, sejarawan, budayawan, dan juru pelihara museum di Sulawesi Selatan, nama Muhaeminah bukanlah nama yang asing. Beliau adalah salah satu *Peneliti Senior di Balai Arkeologi Sulawesi Selatan (BALAR Sulsel) Makassar*, yang kini telah bertransformasi menjadi bagian dari *Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).*
Kantornya yang menjadi pusat peradaban riset arkeologi timur Indonesia itu beralamat di *Jalan Pajjaiyang No.13, Sudiang Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, 90242.*
*BUKAN PEGAWAI MUSEUM, TAPI RUJUKAN SEMUA MUSEUM DI SULSEL*
Perlu diluruskan, Ibu Muhaeminah bukanlah pegawai Museum Balla Lompoa. Namun, karya-karya ilmiahnyalah yang menjadi kitab rujukan utama bagi semua museum di Sulawesi Selatan, termasuk *Museum Balla Lompoa, Museum La Galigo Benteng Rotterdam, dan Museum Benteng Somba Opu.*
Hampir semua narasi, label koleksi, dan katalog peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang terpajang di museum-museum tersebut, tidak lepas dari hasil penelitian beliau.
Juru pelihara museum senior di Gowa mengatakan kepada IMC News, "Kalau mau tahu tentang bata kuno Somba Opu, tentang benteng-benteng yang dihancurkan Belanda, tanya saja Ibu Muhaeminah. Beliaulah kamus berjalan arkeologi Gowa-Tallo."
*4 BIDANG KEAHLIAN UTAMA YANG MENGUKIR SEJARAH:*
*1. Ahli Benteng-Benteng Kesultanan Gowa-Tallo - Sang Penjaga Warisan Maritim*
Keahlian utama beliau adalah tentang sistem pertahanan Kerajaan Gowa-Tallo. Dalam catatannya yang fenomenal tahun 2009, beliau menguraikan bahwa Sulawesi Selatan sejatinya adalah negeri seribu benteng. Beliau mencatat benteng-benteng seperti Benteng Tallo, Benteng Sanrobone, Benteng Pannyua (Ujung Pandang/Rotterdam), dan Benteng induk Somba Opu, yang hampir semuanya telah dihancurkan oleh Belanda pasca Perjanjian Bongaya 1667, kecuali Benteng Ujung Pandang yang kini menjadi Fort Rotterdam. Penelitiannya menjadi dasar pemugaran Benteng Somba Opu.
*2. Penulis Buku Monumen Islam di Sulawesi Selatan*
Bersama tim peneliti hebat seperti Dr. Akin Duli dan kawan-kawan, beliau menulis buku monumental berjudul *Monumen Islam di Sulawesi Selatan*. Buku ini menjadi rujukan wajib mahasiswa sejarah dan arkeologi tentang bagaimana Islam masuk dan berakulturasi dengan budaya lokal Bugis-Makassar.
*3. Peneliti Jejak Melayu Penyebar Islam di Gowa-Tallo*
Artikel ilmiahnya yang dimuat di *Jurnal Al-Qalam Vol 21 No 2 (2015)* berjudul *"JEJAK ORANG MELAYU SEBAGAI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI KERAJAAN GOWA-TALLO"* membongkar fakta penting bahwa orang-orang Melayu dari Johor, Patani, dan Minangkabau memiliki peran sentral dalam Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-16, jauh sebelum kedatangan Datuk Ri Bandang. Riset ini mengubah cara pandang sejarah Islam di Sulsel.
*4. Peneliti Eksistensi Bata Kuno di Museum Benteng Somba Opu*
Risetnya yang berjudul *"Eksistensi Bata Kuno Situs Benteng Somba Opu"* di *Jurnal Al-Qalam Vol 20 No 2 (2014)* adalah penelitian yang sangat teknis dan detail. Beliau meneliti komposisi, ukuran, teknik pembakaran, hingga simbol-simbol pada bata kuno abad ke-16 yang menjadi bahan utama pembangunan Benteng Somba Opu yang konon luasnya 113.590 hektar dan disebut sebagai benteng terluas di Asia Tenggara pada masanya. Bata-bata yang kini diteliti di laboratorium BRIN dan dipajang di Museum Somba Opu adalah hasil kerja keras beliau.
*IBU-NYA ARKEOLOGI SULSEL*
Tak berlebihan jika di kalangan akademisi, Dra. Muhaeminah, M.Si. dijuluki sebagai *"Ibu-nya Arkeologi Sulsel"*. Senior yang sangat dihormati, rendah hati, dan selalu membuka diri untuk membimbing peneliti muda, mahasiswa, dan juru pelihara museum.
Di saat banyak peneliti muda lebih memilih riset yang instan, beliau tetap konsisten dengan metode eskavasi yang penuh kesabaran, mencatat setiap temuan dengan detail, dan menjaga marwah arkeologi sebagai ilmu yang menjaga identitas bangsa.
Semoga pengabdian beliau menjadi inspirasi bagi generasi muda Sulawesi Selatan untuk tidak melupakan sejarah dan terus menjaga warisan budaya leluhur.
*Tabe' hormat kami untuk Ibu Muhaeminah!
*Laporan: Tim Investigasi Sejarah & Budaya IMC News - Celebes Magazine*
*Penulis: Kamal Petta Pabbicara*
*
5







0 Komentar