Ungkap Fakta Sejarah Bugis Makassar
Mustafa Kamal: Pemerhati Sejarah, Adat, budaya Bugis Makassar & situs Purbakala Sulawesi Selaran*PANGKEP, IMC News Celebes Magazine 28 Mei 2026* – Kekaraengan Balocci pernah menjadi salah satu dari lima distrik adat _adatgemeenschap_ yang disegani di wilayah Onderafdeeling Pangkajene pada masa kolonial Belanda. Berpusat di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, kerajaan kecil ini dikenal sebagai wilayah “Butta Toa” atau tanah tua yang dihuni para pemberani.
*Masa Kejayaan Karaeng Balocci*
Masa keemasan Balocci terlihat pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika struktur pemerintahan adatnya masih utuh. Kekaraengan ini dipimpin oleh seorang *Karaeng*, dibantu 9 Kepala Kampung. Dari sembilan kampung tersebut,
5 berkedudukan Karaeng, 1 Sullewatang, dan 3 Gallarang.
Wilayah kekuasaannya meliputi 9 kampung: Balocci, Padang Tangngaraja, Padang Tangngalau, Bulu-bulu, Birao, Bantimurung, Malaka, Lanne, dan Tondongkura. Kampung Bantimurung dan Malaka bahkan didirikan oleh keluarga Karaeng Balocci sendiri.
Periode pemerintahan *H. A. Rahim Daeng Masalle (1937-1962)* dianggap sebagai masa terakhir pemerintahan kekaraengan Balocci yang utuh. Selama 25 tahun beliau memerintah melalui tiga zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang, NICA, hingga masa perjuangan kemerdekaan dan pemberontakan Kahar Muzakkar.
Sebelumnya, peralihan kekuasaan terjadi pada 1916 ketika *Gallarang Tondongkura, H. A. Kadir Daeng Matteppo* diangkat sebagai Karaeng Balocci XI oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sejak saat itu Balocci resmi menjadi salah satu dari lima district adat di Pangkep bersama Pangkajene, Labakkang, Ma’rang, dan Segeri. a6e5
*Makna Nama dan Identitas Balocci*
Nama “Balocci” berasal dari “Ballo Kecci” yang berarti arak kecut. Daerah ini dikenal sebagai tempat asal “Koro-korona Balocci”, julukan untuk para pemberani yang terkenal dengan kebiasaan minum ballo, sabung ayam, dan judi pada masa lalu.
Dalam tradisi lisan, Balocci juga dikenal dengan “Koro Passena Balocci” – seorang perempuan bangsawan yang tak terkalahkan, arif, dan disegani. Filosofi “Butta Toa-Butta Ripanurung” dengan 7 bendera atau 7 Bila-bila menjadi simbol persatuan tanah leluhur Balocci.
*Silsilah dan Hubungan dengan Kerajaan Sekitar*
Kekaraengan Balocci tidak berdiri sendiri. Awalnya Lanne dan Tondongkura mengakui kekuasaan Karaeng Labakkang, lalu Gowa dan Bone.
Karaeng Padattangnga, salah satu bangsawan Balocci, merupakan keturunan Bone dari garis Arung Palakka dan memiliki 3 anak: Karaeng Gilingeng, Karaeng Bari’, dan Karaeng Sapa.
Secara umum, Balocci masuk dalam lingkup pengaruh Kerajaan Siang dan kemudian Gowa-Tallo pada abad 16-17.
Silsilah raja-raja Siang yang menguasai wilayah Pangkep tercatat sebagai berikut:
1. Karaeng Allu
2. Johor/Mappasoro Matinroe ri Ponrok
3. Patolla Daeng Malliongi
4. Pasempa Daeng Paraga
5. Mangaweang Daeng Sisurung
6. Pacandak Daeng Sirua
7. Palambe Daeng Pabali
8. Karaeng Kaluarrang dari Labakkang
9. Ince Wangkang dari Malaka
10. Solle Daeng Malleja
11. Andi Pappe Daeng Massikki
12. Andi Papa Daeng Masalle
13. Andi Jayalangkara Daeng Sitaba
14. Andi Mauraga Daeng Malliungang
15. Andi Burhanuddin
16. Andi Muri Daeng Lulu
*Warisan Hingga Kini*
Setelah 1962, sistem kekaraengan dihapus dan Balocci menjadi wilayah kecamatan. Namun jejak adat masih hidup melalui gelar hadat seperti Galla’ Bulu-bulu, Galla Padangtangaraja, dan Galla Balocci. Arajang Balocci berupa selembar petaka merah bernama “Calla’ka” yang berasal dari Gowa juga masih menjadi simbol penting.
Situs Sumpang Bita di Kecamatan Balocci menjadi salah satu peninggalan purbakala yang terus diteliti sebagai bukti sejarah kekaraengan ini.
*Catatan Redaksi:*
Data disusun berdasarkan sumber sejarah lokal Bugis-Makassar, Bulletin KKSS 1989, dan arsip Pemkab Pangkep. Untuk pengembangan riset, silsilah lengkap dapat ditelusuri di Lembaga Adat dan Dinas Kebudayaan Pangkep.(Bersambung)






0 Komentar