Misteri Kampung Ceppaga yang 'Hilang' Terkikis Erosi Sungai Sejak 1979

     

  *Foto: Ilustrasi Sungai Ceppaga / Dok. Warga*

*Misteri Kampung Ceppaga yang 'Hilang' Terkikis Erosi Sungai Sejak 1979

, Bergeser 500 Meter Ancam Saluran Irigasi*

*Warga Terpaksa Mengungsi ke Pegunungan, Tradisi Mappaseka Kini Tinggal Kenangan*

*BARRU, http://IMCNews.co.id* – Kampung Ceppaga di *Kelurahan Ceppaga, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru* menyimpan kisah pilu. Permukiman tua itu perlahan 'hilang' ditelan erosi Sungai Ceppaga yang berlangsung sejak akhir 1970-an.

Akibat gerusan sungai yang tak henti, kampung bergeser hampir *500 meter* dari titik awal. Warga terpaksa mengungsi dan membangun rumah baru di pinggiran pegunungan sekitar kampung.

“Sejak tahun 1979-an, sungai mulai makan daratan. Rumah-rumah habis satu per satu. Warga tidak punya pilihan selain naik ke atas, ke kaki gunung,” ujar salah satu tokoh masyarakat Ceppaga, Andi Muh. jihad Selasa.Selasa 2 Mei 2026.

*Ancaman Baru: Irigasi Tergerus*

Saat ini erosi Sungai Ceppaga tak hanya menelan kampung lama. Aliran sungai yang kian melebar sudah mengancam *saluran irigasi teknis* yang mengairi sawah warga.

Pemerintah dan pihak terkait terus memasang *bronjong kawat* di tepi sungai untuk menahan laju erosi. Namun warga menilai penanganan masih bersifat darurat. “Kalau musim hujan, air besar. Bronjong sering jebol. Butuh normalisasi dan tanggul permanen,” desak Andi Muh.Jihad.

*Tradisi Mappaseka yang Terlupakan*

Di balik bencana, Kampung Ceppaga menyimpan memori tradisi unik: *Mappaseka*. Dulu, saat air sungai surut, warga turun ramai-ramai membendung aliran sungai dengan batu-batu kali. Di sela bebatuan, dipasang perangkap ikan tradisional *bubu*.

Hasilnya selalu melimpah. “Walhasil penangkapan ikan membludak. Dari hasil tangkapan itu, masing-masing warga pulang dengan perasaan gembira membawa ikan. Itulah _Mappaseka_, tradisi gotong royong dan syukur warga Ceppaga yang kini sudah terlupakan,” tutur Andi yang akrab disapa Puang Jiha, mengenang.

Tradisi itu hilang seiring berpindahnya kampung dan berubahnya alur sungai. Generasi muda Ceppaga banyak yang tak tahu _Mappaseka_ pernah ada.

*Desakan Warga*

Warga berharap ada perhatian serius dari Pemkab Barru, BBWS Pompengan Jeneberang, dan DPRD Sulsel. Selain penanggulangan erosi, mereka minta dokumentasi sejarah dan tradisi Kampung Ceppaga agar tak hilang ditelan zaman.

“Kampung kami sudah bergeser 500 meter. Jangan sampai sejarah dan budaya kami juga ikut hanyut,” tutupnya.

*Penulis: Anis Dan Bastu Tim IMC News Barru*    

                        

          Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7



o Vra
ido iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan


Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan



Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan

            



Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan

Pewarta : .  Anis Andriady/Bastu 

Editor     :  Kamal/ANS7

o Vra
ido iral ...!. Ibu Subiao Berantas Bos

lestarikan Adat Dan Budaya Sulawesi Selatan

Posting Komentar

0 Komentar